Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 2 “Tiga Zaman Emas Peradaban Islam”

 

Part 3

“Tiga Zaman Emas Peradaban Islam”

 

Kejayaan islam itu termanifestasi dalam beberapa zaman, atau 3 zaman yang dicatat dalam sejarah.

Umayyah

661 M – 750 M

Abbasiyah

750 M – 1258 M

Ottoman

1299 M – 1922 M

 

Zaman keemasan Islam yang pertama adalah zaman Umayyah yang dimulai kurang lebih 29 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW di tahun 632 M. Dinasti ini berlangsung dari tahun 661 M – 750 M. Tentunya kejayaan zaman Umayyah ini diwarnai dengan tingkat toleransi dan keterbukaan yang luar biasa. Khususnya dalam urusan ekonomi, sosial, dan budaya. Dinasti ini dipelopori oleh Muawiyah Ibn Abu Sufyan (602 M – 680 M) yang memposisikan dirinya sebagai pimpinan atau gubernur di Damaskus yang akhirnya menjadi Ibukota dari kekuasaan untuk kerajaan Umayyah selama 90 tahunan. Mereka cukup luas teritorinya, ini mencangkup 11 juta km2, termasuk Asia Tengah, Pakistan, Afrika Utara, Peninsula, Iberia yaitu Spanyol dan Portugal atau Andalusia. Ini jauh lebih besar daripada teritori yang dikuasai di zaman Romawi sebelumnya. Mayoritas dari populasi yang ada di zaman Umayyah ini adalah kaum Kristen. Mereka dan non-muslim lainnya termasuk kaum Yahudi diharuskan membayar pajak leboh tinggi dibandingkan kaum muslim atau Umat Islam yang hanya harus bayar pajak zakat.


Zaman berikutnya yang bisa dibilang sebagai zaman kejayaan Islam adalah zaman Dinasti Abbasid atau Abbasiyah yang berlangsung cukup lama, dari tahun 750 M sampai tahun 1258 M. Zaman ini juga sangat diwarnai dengan toleransi dan keterbukaan. Zaman ini dipelopori oleh yang sebetulnya sebelum tahun 750 M oleh pamannya Nabi Muhammad SAW, yang bernama Abbas Ibn Abdul Muthalib (565 M – 653 M). Zaman Abbasiyah ini kekuasaannya juga sangat besar, dan di awal waktu mereka ber Ibukota di Kufa, yang sekarang berada di Irak, semenjak mereka mengambil alih dari kerajaan Umayyah di tahun 750 M. Namun selanjutnya mereka memindahkan ibukota ke Baghdad di tahun 762 M semenjak Raja Al Mansyur berkuasa. Baghdad ini menjadi pusat dari ilmu pengetahuan, sains, budaya, filsafat, dll, yang membuahkan zaman keemasan Islam yang luar biasa. Namun zaman ini berakhir di tahun 1258 M, sewaktu diserang dan di taklukkan oleh Hulagu Khan keturunan dari kerajaan Mongol.


Manifestasi kejayaan Islam yang ketiga ini, adalah di zaman Ottoman yang berlangsung cukup lama dari tahun 1299 M – 1922 M. Zaman ini juga diwarnai dengan toleransi dan keterbukaan, tapi mungkin tidak sekental seperti pada zaman Abbasiyah dalam konteks pengedepanan sains dan teknologi. Zaman Ottoman ini diprakarsai oleh Sultan Osman dari Anatolia, seorang kepala suku Turkman. Pada dinasti Ottoman ini juga mengakhiri kekuasaan Kerajaan Byzantine, dengan pengambil alihan Kota Konstantinopel di tahun 1453 M, oleh keturunan Osman bernama Sultan Mehmed (1432 M – 1481 M) di usia muda sekali. Dan pada zaman Sultan Sulaiman I (1494 M- 1566 M) kerajaan Ottoman mengalami puncak kejayaan, dengan pengembangan sistem pemerintahan, ekonomi, dan sosial yang menjadikan Ottoman pusat interaksi antara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Pengedepanan ilmu alam di zaman Ottoman tidak secanggih sewaktu di zaman Abbasiyah, dan zaman ini berakhir beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I di tahun 1917 M – 1918 M.


Next Part 3 ......

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 1 “Sejarah Sains Yang Terlupakan 2”

Part 2

“Sejarah Sains Yang Terlupakan 2”


        Kalau kita kupas lagi dalam konteks populasi dunia sejumlah 7,8 Miliar jumlah total penduduk dunia, kaum Kristen jumlah penduduknya kurang lebih 2,5 Miliar, mereka memenangkan 66%  dari total hadiah nobel yang dimenangkan dalam konteks sains, sedangkan populasi mereka itu adalah 32,1% dari total populasi dunia. Sedangkan Islam dengan 1,8 Miliar penduduk, kurang lebih 24,5% dari total jumlah penduduk dunia, mereka memenangkan hanya 0,5% dari total hadiah nobel dalam bidang sains. Hindu dengan jumlah 1,16 Miliar penduduk di dunia atau kurang lebih 15% dari total populasi dunia, mereka hanya memenangkan 0,6% total hadiah Nobel yang dimenangkan dalam bidang sains. Buddha dengan 506 Juta penduduk atau kurang lebih 5% dari populasi dunia, mereka belum memenangkan apapun. Sedangkan Yahudi, hanya dengan populasi 20 Juta penduduk atau 0,18% dari total populasi dunia, mereka sudah memenangkan 23,3% dari total hadiah Nobel yang dimenangkan selama ini dalam bidang sains.

 

 

Jumlah Populasi

Persentasi Populasi Dunia

Persentase Pemenang Nobel bidang Sains

Kristen/Katolik

2,5 Miliar

32,1%

66,2%

Islam

1,8 Miliar

24,5%

0,5%

Hindu

1,16 Miliar

15%

0,6%

Buddha

506 Juta

5%

 -

Yahudi

20 Juta

0,18%

23,3%

 

Total Populasi Dunia : 7,8 Miliar Penduduk

 

            Nah, kalau kita belajar selama ini, ilmuwan-ilmuwan yang kita ketahui iru kebanyakan atau hampir semuanya yang kita kenal itu berasal atau dari Eropa. Tentunya yang pertama yang dikenal adalah Isaac Newton, bisa Aristoteles, bisa Albert Einstein, bisa Pythagoras, bisa Galileo, bisa Charles Darwin, ataupun Marie Curie. Lucunya tidak kedengeran nama-nama yang berasal dari Timur Tengah atau dari dunia zaman Islam.

 

Tapi, yang penting untuk diketahui adalah ketika kita bicara mengenaik angka atau bilangan, angka yang digunakan oleh manusia di seluruh dunia, angka ini adalah angka Arabic atau bilangan Arabic, bahkan ilmu mereka untuk menemukan angka itu juga ditopang oleh teman-teman di India. Karena dari India lah yang menemukan angka nol yang ditambahkan ke angka-angka dari 1-9.

 

          Berikutnya kalau kita melihat bintang yang ada di Galaksi Milky Way, itu 2/3 dari seluruh bintang yang sudah diberikan nama itu sebetulnya diberikan nama oleh ahli-ahli di zaman islam yang jaya, khususnya di zaman Abbasid atau Dinasti Abbasiyah yang berjaya selama kurang lebih 500 tahun, dari tahun 750 sampai kurang lebih 1258.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 1 “Sejarah Sains Yang Terlupakan 1”

 

Part 1

“Sejarah Sains Yang Terlupakan 1”

 

 

            Pengakuan Dunia Terhadap Ilmuan

            

            Di era atau dunia modern, kalau kita mau mengukur pengedepanan sains dan teknologi, itu salah satu ukurannya adalah kemenangan di Nobel. Nobel ini adalah penghargaan Internasional yang diberikan kepada mereka yang memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat untuk umat manusia dalam bidang sains dan teknologi. Termasuk fisika, kimia, kedokteran, dan juga ekonomi. Tapi juga untuk non-sains termasuk sastra atau literatur dan perdamaian.

 

           Penghargaan ini dimulai oleh Alfred Nobel, seorang ahli kimia, insinyur, dan industrialis Swedia, yang terkenal karena penemuan dinamit pada tahun 1901. Dan tentunya ini berkelanjutan semenjak awal abad ke-20. Setiap pemenang (penghargaan Nobel) menerima medali emas, diploma, dan penghargaan uang. Hingga pada tahun 2021, penghargaan Nobel telah diberikan kepada 975 pemenang, baik itu individu maupun organisasi. 


          Kalau kita lihat, pemenang Nobel dari tahun 1901 sampai 2021 itu totalnya ada 975 penghargaan. Untuk kategori non-sains itu ada 344 pemenang, dan untuk sains itu ada 631 pemenang. Sebagian pemenang beragama Kristen, kurang lebih 68% dari total jumlah pemenang. Diikuti oleh Yahudi, yang mendapatkan penghargaan dengan angka kurang lebih 20,8% dari total pemenang, dan lainnya termasuk Islam, hanya 1,3% dari total jumlah pemenang, Hindu 0,8%, dan Buddha 0,4%. 

     

      Kalau kita kupas lagi dalam konteks Sains, hanya tiga orang Islam yang pernah menang mendapatkan penghargaan hadiah Nobel. Ketiganya itu yang pertama adalah Abdus Salam dalam bidang Fisika di tahun 1979. Dia adalah keturunan Pakistan. Yang kedua adalah Ahmed Zewail, keturunan Mesir, yang menang di bidang kimia pada tahun 1999. Dan yang ketiga adalah Aziz Sancar, keturunan Turki yang menang di bidang kimia pada tahun 2015.

 

          Nah, islam ini hanya merupakan 0,5% dari total pemenang Nobel dalam bidang Sains. Sedangkan Hindu dengan 4 pemenang, itu 0,6% , dan Yahudi dengan 147 pemenang itu berarti 23,3% dari total pemenang Nobel dalam bidang Sains. Dan yang paling banyak tentunya adalah 418 pemenang yaitu dari orang kristen yang merupakan 66,2% dari total pemenang Nobel dalam bidang Sains.

 

         Sedangkan untuk penghargaan Nobel dalam bidang non-sains, agama Buddha itu ada 4 pemenang, itu merupakan 1,2% dari total jumlah pemenang. Hindu, 4 pemenang itu juga di angka 1,2% dari total jumlah pemenang. Islam ada 10 pemenang, dengan persentasi 2,9% dari total pemenang nobel dalam bidang non-sains. Yahudi ada 56 pemenang, dengan 16,3% dari jumlah total pemenang. Kristen itu ada 248 pemenang, kurang lebih 72,1% dari total pemenang nobel dalam bidang non-sains.


      Next Sejarah Sains Yang Terlupakan 2 .........

 

SERVO MECHANISM ADVANCE

Part 1

 

A.    Kata Pengantar

Pernahkan Anda ingin melakukan sesuatu tetapi tidak pernah terjadi? Misalnya ingin sehat, tetapi dihadapan Anda selalu makanan enak, berkolestrol, dan berlemak. Ingin menabung tetapi selalu ada saja penyebab uang keluar dari saku. Itulah servo Anda, yaitu proses loop tertutup untuk mengkoreksi proses secara terus menerus agar tetap dapat menuju “terget” yang telah ditetapkan.

Nah, apasih hubungannya dengan perilaku manusia?. Sangat berhubungan erat. Dr. Maxwell dalam buah karyanya “Psychocybernetics” yang menyoroti peran besar dari self-image dalam kesuksessan seseorang, memperkenalkan penggunaan istilah “Servo Mechanism” ini untuk menggambarkan gerakan kecenderungan manusia.

Pada dasarnya dalam kehidupan ini, setiap orang bergerak dengan prinsip “Servo Mechanism” alias terus menerus melakukan koreksi hingga sesuatu yang “digariskan” terjadi, dimana proses koreksi ini berlangsung dengan melibatkan seluruh kesadaran holistik manusia (Conscious dan Unconscious)

            Suatu hari, ada yan bertanya tentang Servo Mechanism, dan ingin mempelajarinya. Ini lumayan berat, karena ini ibarat silat, ada gerak yang harus dikerjakan, ada latihan yang harus diulang-ulang, ada perilaku yang harus dirubah, dan ada kebiasaan yang harus di break. Pola dalam diri manusia tidak mudah membongkarnya, kebiasaan tidak mudah mengubahnya, kecenderungan-kecenderungan dalam tindakan seseorang tidak mudah menggantikannya. Karena itu semua sudah menjadi pilihannya secara bawah sadar sistem dirinya. Sudah menjadi pilihan maunya dia. Automatic Guidance System itu terpasang oleh dirinya sehingga banyak kejadian dalam diri seseorang itu mengulang. Itu lagi, itu lagi. Bisa itu kesialan-kesialan, bisa itu keberuntungan-keberuntungan. Itulah sistem yang melayani kehidupan seseorang, yang dalam bahasa latinnya “Servo Mechanism”.

            Berbicara tentang apa itu “Servo Mechanism” kalau diterjemahkan dengan bebas adalah sistem kehidupan yang melayani kehidupan seseorang. Ada servo seseorang yang selalu untung, ada servo seseorang yang selalu merugi. Ada servo yang selalu penuh dengan masalah, ada servo yang jalan hidupnya semua serba mudah. Ketahuilah sahabat, pola dalam kehidupan seseorang adalah orang itu sendiri yang menciptakannya. Pertanyaannya sekarang, kenalkah Anda dengan pola-pola dalam kehidupan Anda tadi?. Pola uang datang, pola uang keluar, pola konflik, pola damai, pola masalah, pola keberuntungan, dan ratusan pola lainnya.

            Kita kasih contoh sederhana, para sahabat saya ini yang kalau saya tanya: adakah yang punya servo keberuntungan kalau sedang mencari parkir?. Misalnya kita ke Jakarta ke mall, malam minggu mencari parkir di mall, dimana cara parkir susah setengah mati. Tapi kalau “dia” yang menyetir selalu dapat tempat parkir cepat, bahkan di depan langsung tanpa muter-muter dan itu selalu dapat tempat parkir yang cepat. Itulah servo-nya dia. Coba kita ganti dengan orang lain yang menyetir mobil tadi. Bisa 10 menit muter-muter cari tempat parkiran tidak nemu-nemu. Dia mempunya servo kemudahan dalam mencari tempat parkir, itulah servo positif dari orang yang pertama. Sementara teman yang satu lagi yang 10 menit bahkan 30 menit muter-muter  di dalam mencari parkir ditempat ramai selalu dan begitu sering di dalam hidupnya, itulah servo dirinya dalam mencari tempat parkir. Dalam mencari nafkah, dalam mencari rezeki, dalam berjodoh, dalam relationship pertemanan, bermitra, membangun organisasi, membangun usaha, bersosialisasi, semua manusia dewasa punya Servo Mechanism. Servo kantong kosong misalnya, servo selalu ditipu, servo selalu sial, servo yang selalu ada yang menyelamatkan kalau ada masalah, servo selalu untung, servo yang kalau habis cuci mobil selalu kehujanan mobilnya, servo kalau menemukan uang dijalan tanda dapat rezeki, dan ada ratusan servo dalam kehidupan manusia ini yang Anda sendiri yang membentuknya dan pada tahap selanjutnya menjadi pola dalam diri Anda.

Pertanyaan sekarang, inginkah pola servo negatif Anda itu dihilangkan? Bagaimana men-cancel servo negatif dan menjadikannya pola baru yang positif yang menghasilkan kesehatan, kemakmuran, menghasilkan kebahagiaan, mau kan?. Inilah narasi yang akan kita buka bersama tentang rahasia Servo Mechanism tersebut. Disini adalah tempat servo Anda diubah. Ubahlah jalan hidup anda untuk menjadi yang terbaik, sesuai dengan semua yang Anda impikan. SELAMAT HIDUP BERSENGAJA !!!. Selamat menikamti narasi serial Servo Mechanism.

 

B.     Uang Datang

Ada baiknya kita mulai dari yang paling ringan terlebih dahulu. Satu tahun ini, uang datang ke Anda darimana saja. Sekali lagi, ini hanya mencatat uang datang, uang masuk selama setahun belakangan ini. Anda sendiri yang menentukan. Apakah selama 2020 ini atau sejak awal 2019 sampai sekarang, boleh juga. Asalkan Anda rinci catatannya. Sekali lagi hanya uang yang masuk. Bisa dikasih suami, bisa dikasih istri, bisa dari gaji, bisa dikasih oleh orang tua, dari bekerja, dari broker property, dapat uang dari tips, dapat uang dari korupsi, uang jabatan, uang pelicin, hasil bisnis usaha, dari mencuri, diberi, dapat hak waris. Apapun uang masuk catatkan dalam selembar kertas. Sebanyak-banyaknya, serinci-rincinya, dan coba catat angkanya sedetail mungkin. Semakin Anda tepat detail, dan rinci, maka pelajaran pola uang datang akan semakin mudah Anda kuasai. Sehingga Servo Mechanism uang masuk akan kita ciptakan lebih banyak lagi. Sekali lagi ambil kertas, folio kosong, kalau perlu beberapa lembar, dan lakukan pencatatan atas uang datang ke Anda selama setahun ini. Penting untuk Anda mengeluarkan semua sedetail mungkin, karena nanti kita akan membuat pola uang datang menjadi servo Anda yang berlimpah.

Lalu Anda tulis total uang tersebut, juga pastikan list diatasnya, darimana saja uang tersebut. Sebelum kita jumlahkan, kemudian  tempel list uang datang tadi, beserta jumlahnya di meja atau dinding kamar kerja Anda, atau di dinding kamar Anda.

Pelajaran selanjutnya menanti. Selamat mengerjakan.

 

C.     Mengenal Uang Datang Dan Permasalahannya

 

“How you get your money” atau “How the money goes to you”.

Sebuah pertanyaan singkat yang sulit dijawab dengat tepat. Pasti mikir dulu, memorizing dulu, baru bisa menjawab. Itupun belum tentu pas atau belum tentu benar. Hanya kira-kira.

Sebelum ke tahap atau pelajaran selanjutnya, yaitu mengenal uang datang dan permasalahannya, kita jeda sebentar agar bisa mengunyah pelajarannya lebih enak. Ada 2 pertanyaan yang akan saya berikan.

 

Pertanyaan pertama adalah:  Who You Are When No One’s Watching You?.

–Siapakah Anda ketika tidak ada satupun yang melihat Anda?-

 

Pertanyaan kedua adalah: What’s Holding You Back?

–Apa yang menahanmu?-

 

Dua pertanyaan ini sederhana. Banyak yang melewatkan, karena sulit akal pikiran kita menjawabnya. Karena ini bukan pertanyaan untuk pikiran atas sadar kita atau Conscious Mind. Akan tetapi ini adalah pertanyaan untuk pikiran Subsconcious. Kalau Anda mengambil masa, mengambil waktu, cobalah untuk memahami pertanyaannya sekali lagi dan mulai renungkan. Jangan menjawab dengan memakai pikiran atas sadar. Endapkan sedalam-dalamnya. Percaya saya. Anda bisa menitikkan air mata, jika sahabat paham maksud saya.

Sekali lagi coba renungkan, apa yang menghalangi Anda saat ini, sehingga tidak bisa Take-Off, tidak bisa berjaya, tidak bisa berkelimpahan, karir tidak lancar. Mengapa semua serasa jalan ditempat. Ada apa sih sebenarnya? Apa yang menghalangi? Pahami terus 2 pertanyaan tersebut. Coba renungkan. Saya tidak meminta jawabannya sekarang. Akan tetapi saya menuntut kejujuran Anda dengan diri sendiri. Kita akan bahas panjang hal ini selanjutnya.

 

Sekarang kita lanjut dengan pola atau pattern yang Anda miliki. Jalan bisnis Anda atau jalan uang Anda yang mengalir, yang Anda ciptakan sendiri selama ini, akan kita fokuskan sementara ini. Mengetahui bagaimana Anda mendapatkan uang selama ini, itu harus dan penting. Iya, sangat penting. Karena itulah cara kita mengenal pola uang bekerja ke arah kita. Kunci pertanyaan yang harus dijawab adalah Bagaimana atau How?.

Kita ulangi pertanyaan di awal pelajaran kali ini.

 

How You Get Your Money atau How Your Money Goes To You?

 

Maka Anda akan menemukan banyak jawaban, ketika Anda terfokus menjawab pertanyaan diatas. Yaitu misalnya Anda menjawab dengan bekerja uangnya datang, dengan pinjaman uangnya datang, dengan kartu kredit, dengan pinjaman orang tua, dengan pemberian suami, dengan pemberian istri, dan lain sebagainya. Lalu coba perhatikan satu tahun terakhir ini, bagaimana Anda mendapatkan uang Anda? Coba catat baik-baik. Dan lengkapi terus catatan tersebut seingat Anda, seperti tugas dalam narasi yang sebelumnya.

Kira-kira sudah terbayang, bagaimana uang datang ke Anda dalam satu tahun terakhir ini atau dua tahun terakhir ini, atau tiga tahun terakhir ini? Kalau sudah, itulah pola uang Anda datang kepada Anda. Sangat wajib mengenal pola uang tersebut. Kegagalan seseorang mengenal dirinya sendiri, karena kegagalan mengenal pola hidupnya sendiri.

Mengenal dirinya sendiri itu bukan hanya mengenal tubuh fisik saja, seperti wajah, jerawat, bekas luka, namun tak kalah penting adalah harus mampu mengenal kebiasaan, kesukaan, kecenderungan, gaya jalan, gaya bicara, dan tentunya pattern atau pola diri semuanya. Kita bisa mulai dengan mempelajari pola bagaimana uang datang ke Anda, karena ini adalah masa lalu Anda. Dan masa depan Anda sekarang Anda membentuk polanya. Kalau Anda sudah cukup senang dengan pendapatan Anda sekarang, ada baiknya Anda melihat pola-pola lain dalam kehidupan Anda, yang kalau jelek boleh segera diubah. Kalau Anda merasa belum puas dengan uang datang ke Anda, maka bersiaplah mengubah pola tersebut. Karena Anda sekarang adalah apa yang Anda kerjakan kemarin. Anda nanti adalah apa yang Anda kerjakan sekarang. Intinya adalah ubahlah sekarang.

Siapkah berubah? Kita bedah pelajaran tersebut lebih lengkap lagi. Sekarang tugas Anda adalah menjawab pertanyaan ini.

 

How Is The Money Goes To You?

 

Coba lihat kembali dari folder list daftar uang yang masuk ke Anda dalam 1 tahun ini atau 2 tahun terakhir ini, yang menempel di dinding kamar Anda sekarang yang telah Anda kerjakan sebelumnya. Lalu tugasnya adalah: coba pisahkan uaang masuk tadi berdasarkan foldernya, berdasarkan asalnya. Contoh misalnya: berapa yang dari keringat sendiri, berapa yang diberi atau dari orang lain, kemudian berapa dari hal yang tidak terduga.

Anda buat 3 folder tadi, Anda kurungi misalnya, yang warna merah dari keringat sendiri, yang warna biru dari orang lain, kemudian yang warna kuning adalah yang tak terduga. Coba Anda folderkan. Selamat mengerjakan.


BIAS COGNITIVE PENGHAMBAT INOVASI DAN SOLUSINYA

 

BIAS COGNITIVE PENGHAMBAT INOVASI DAN SOLUSINYA

 

Kenapa upaya inovasi kerap gagal menghasilkan output yang diinginkan dalam organisasi?. Bisa jadi itu bukan karena proses inovasi yang telah dilakukan salah, atau bukan juga karena inovator atau tim inovator kurang cerdas dalam melakukannya. Dan bisa jadi itu karena cognitive bias kita dan tim yang kita miliki telah menghambat lahirnya inovasi itu.

Bias kognitif atau cognitive bias adalah cara berpikir dan memahami dunia yang belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Kita mungkin mengira kita mengalami dunia disekitar kita dengan objektifitas yang sempurna. Masing-masing dan setiap orang dari kita melihat sesuatu secara berbeda. Berdasarkan prasangka, pengalaman masalalu, dan faktor lingkungan, atau sosial kita. Tentunya itu tidak berarti bahwa cara kita berfikir atau merasakan sesuatu itu benar-benar mewakili kenyataan yang sebenarnya. Sederhananya bias kognitif adalah distorsi realitas kita dalam memandang dunia.

Ada banyak bias kognitif yang ada. Dan dalam hal ini, ada 7 diantaranya menurut saya banyak dimiliki oleh kita sendiri dan orang-orang disekitar kita, yang mana itu dapat merusak proses penciptaan inovasi bahkan yang paling baik sekalipun. Dan cobalah untuk mengenali ketujuh bias kognitif dalam diri kita, dalam diri orang sekitar kita, dalam diri atasan kita, dan juga para diri setiap anggota tim inovasi kita.

            Amos tversky dan daniel kahneman memperkenlakan istilah cognitive bias atau bias kognitif pada awal 1970-an untuk menggambarkan pola respon seseorang yang itu sistemas, tapi menghasilkan pola respon yang cacat atas penilaian dan pengambilan keputusan. Secara sederhananya cognitive bias didefinisikan sebagai pola penyimpangan sistematis dari norma atau rasionalitas dalam melakukan penilaian. Seseorang menciptakan realitas subjektivitas mereka sendiri dari persepsi mereka terhadap apa yang mereka lihat, dengar, dan mereka rasakan. Kontruksi realitas persepsi individu itu bukanlah kenyataan objektif yang sebenarnya, yang kemudian mendikte perilaku mereka di dunia. Berikut ini ada 7 bias kognitif yang banyak dimiliki oleh kita dan orang-orang sekitar kita yang mana itu bisa merusak proses penciptaan inovasi yang paling baik sekalipun.

1.      Confirmation bias

Ini merupakan salah satu bias kognitif yg paling umum kita temui. Confirmation bias adalah ketika seseorang mencari dan menafsirkan informasi baik itu berita, data statistik atau pendapat orang lain, maka mereka hanya mendukung asumsi atau teori yang telah mereka miliki saja. Jadi, confirmation bias ini berbahaya bagi pengembangan inovasi, karena si pelaku proses inovasi bisa menjadi salah arah. Dia terus menggerakkan inovasinya kearah yang dia yakini benar namun pada kenyataannya bisa jadi para anggota secara faktual tidak menginginkannya. Selain itu  dampak dari confirmation bias ini adalah rendahnya tingkat adopsi dari sebuah inovasi baru. Mereka yang sudah terlanjur nyaman dan meyakini bahwa cara yang dia gunakan selama ini adalah yang paling baik, cenderung untuk menolak inovasi tersebut.

2.      Anchoring effect

Anchoring effect atau efek jangkar  itu muncul ketika seseorang berfokus pada satu aspek dengan mengesampingkan semua pertimbangan lainnya. Contohnya, bagi teman-teman inovator yang punya latar belakang technical  sering kali terobsesi pada menghadirkan teknologi yang paling canggih dan tertinggi. Karena memang itu yang menjadi passion-nya, dan passion itu kemudian jadi anchorring atau jangkar dalam setiap pengambilan keputusannya. Karena itulah maka bisa jadi sang inovator malah justru mengabaikan hal-hal lain yang sebenarnya itu punya nilai tinggi bagi organisasi dan dia hanya terjebak fokus pada membuat inovasi yang berbasis teknologi canggih. Maka nilai inovasinya menjadi rendah dimata organisasi.

3.      Ambiguity effect

Efek ambigu ini menghasilkan keputusan untuk mendukung pilihan dengan hasil yang sudah diketahui, daripada mengambil resiko pada pilihan yang probabililitasnya tidak diketahui. Hal ini mengakibatkan keterbatasan kemampuan dalam mengenali manfaat jangka panjang dari keputusan yang lebih beresiko, ketika dibandingkan dengan keuntungan marginal dari pilihan yang lebih aman. Akhirnya inovasi yang dihasilkan seringkali berupa incrementel improvment saja yaitu peningkatan kinerja kecil-kecilan. Tidak ada lompatan perbaikan apalagi inovasi radikal yang bisa menghasilkan lompatan nilai bagi anggota organisasi.

4.      Bandwagon effect

Efek kereta ini seringkali dikaitkan dengan fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah mentalitas kelompok. Seseorang yg mengalami bandwagon effect itu menempatkan nilai jauh lebih besar pada keputusan yang cenderung sesuai dengan trend saat ini, atau menyenangkan individu dalam kelompok yang ada atau yang diinginkan. Terkadang para inovator memilih untuk menggarap project inovasi yang itu berpeluang besar akan dapat apresiasi dari atasan atau dapat restu dari para senior leaders daripada benar-benar menciptakan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan bagi organisasi.

5.      Dunning kruger effect

Dunning kruger effect itu adalah jenis bias kognitif dimana orang percaya bahwa mereka lebih pintar dan lebih mampu daripada yang sebenarnya. Pada dasarnya orang yang punya kemampuan rendah itu tidak bisa mengenali ketidak mampuannya sendiri. Jadi kombinasi antara kesadaran diri yang buruk dengan kemampuan kognitif yang rendah itulah yang membuat mereka jadi melebih-lebihkan kemampuan diri mereka sendiri. Kalau sang inovator memiliki effect Dunning kruger effect ini jelas repot ya. Dia akan meyakini bahwa idenya itu adalah yang paling baik. Dan dia merasa tau segalanya. Sehingga alih-alih melakukan validasi ekperimentasi aja dia males. Karena menurut dia solusinya sudah jelas. Ya itu apa yang ada dikepalanya itulah soslusinya. Dunning kruger effect ini juga terkadang dimiliki oleh atasan atau pejabat yang mempunyai kepentingan terhadap inovasi kita. Bisa jadi dia jadi nyetir proses inovasi kita ke arah yang sebenarnya belum tentu benar tetapi dia yakini benar.

6.      Affinity bias

Affinity bias atau efek kedekatan ini merupakan kecenderungan bawah sadar kita untuk memilih atau mendukung orang orang yang memiliki kesamaan dengan diri kita. Bias ini paling sering terjadi pada saat menseleksi calon karyawan atau memilih anggota tim.

Apasih akibatnya bagi proses inovasi?. Ingat ya inovasi itu lahir justru dari perbedaan pandangan, dari tubrukan ide yang datang dari orang-orang yang punya latar belakang dan expertise yang berbeda beda. Jika kita memilih anggota tim inovasi  hanya dengan mereka yang latar belakangnya, pendidikannya, gaya, dan cara pandangnya itu sama aja dengan kita, maka inovasi yang muncul paling ya itu-itu saja, tidak ada yang baru. Maka jangan mimpi melahirkan radical inovatios atau distruktif inovation.

7.      Status quo bias

Bias ini adalah pereferensi untuk hal-hal yang relatifly tetap tidak berubah. Seseorang mengalami status quo bias sering menganggap setiap penyimpangan dari yang biasanya sebagai sesuatu yang negatif atau merugikan. Dan itu mengakibatkan keengganan yang kuat untuk tidak mau berubah. Semestinya kognitif bias yang satu ini tidak dimiliki oleh sang inovator itu sendiri. Melainkan biasanya dimiliki oleh orang orang yang disekitarnya yang dia ingin bantu, rekan kerja yang merasa terancam pekerjaannya jika ada inovasi yang akan menggantikan perannya nanti, atasan yang merasa area kekuasannya dilanggar dengan hadirnya inovasi kita atau mungkin sekedar orang-orang sekitar yang malas kalau harus berubah atau mempelajari sesutau yang baru. “if its not broken. Don’t fix it”, begitu kata mereka.

 

Itulah tadi 7 bias kognitif yang dapat merusak proses inovasi yang paling baik sekalipun. Jadi bagaimana cara kita mengatasinya. Berikut ada 3 tips untuk mengurangi bias kognitif kita.

1.      Pertimbangkan siapa yang terpengaruh oleh keputusan kita atau kurangnya keputusan dari kita. Terkadang melihat bagaimana orang lain akan terpengaruh oleh suatu keputusan yang kita ambil, akan membantu memperjelas keputusan tersebut untuk kita.

2.      Lihat apakah ada observasi aktual yang kita dapat lakukan atau adanya data untuk membantu kita membuat keputusan. Kita tidak perlu menulis thesis, cukup berikan pikiran rasionalisasi atas beberapa data untuk dikerjakan dan kita nanti akan lihat bagaimana itu bisa dengan cepat mengubah dan mempertajam pengambilan keputusan kita.

3.      Meminta masukan dari sumber yang kredibel. Mereka mungkin memiliki data atau pengalaman yang tidak kita miliki. Dan karena tidak ada dua orang yang persis sama, mereka mungkin melihat situasi dan perioritas dari sudut pandang yang berbeda dari kita. Perspektif luar yang ternyata menantang dari apa yang kita lihat sering kali justru memperjelas dan membantu anda dalam mengambil keputusan.

4.      Keterbukaan diri adalah bekal untuk bagaimana kita bisa melakukan re-skilling ataupun re-purposing bahkan up-skilling ataupun up-purposing. Banyak sekali teman-teman kita yang tidak bisa melakukan penyesuaian inovasi dikarenakan mereka tidak bisa menunjukan keterbukaan diri sehingga mereka tidak bisa melakukan proses produksi inovasi yang inovatif. Maka keterbukaan adalah kuncinya.

 

Hati hati dengan bias kognitif kita. Segeralah identifikasi lalu atasi. Jangan sampai mereka menjadi jebakan batman disaat kita sedang asik berinovasi. Semoga manfaat.

SYAHDAN

    Pada tempat yang sunyi , senyap , disekitar macam-macam gunung diluar Mekah timbullah berkali-kali persoalan. Lagit Arabia tiada dili...