TEKNOLOGI VS MORALITAS

 


Akselerasi Tekonologi dan Goyahnya Moralitas

 

            Belajar dari sejarah, pesatnya kemajuan sains dan teknologi juga berpotensi menimbulkan resiko kesilapan moral dan etika dalam penerapannya. Diperlukan kebijaksanaan untuk lebih mendahulukan isu-isu yang sifatnya jangka panjang dan punya andil pada kemajuan peradaban.

 

Banyak yang berpendapat bahwasanya revolusi industri pertama itu terjadi di pertengahan abad ke-19. Tapi mungkin kalau kita tarik lebih awal lagi, industri itu ber-evolusi dan ber-revolusi, itu mungkin sekitar seratus ribu tahun yang lalu, semenjak api ditemukan oleh manusia. Dan kalau kita lihat yang kedua, revolusinya itu mungkin terjadi sewaktu tulisan dan roda ditemukan oleh manusia. Itu terjadi mungkin sekitar lima sampai enam ribu tahun yang lalu. Barulah kita selanjutnya ke revolusi industri, yang mana uap, listrik, komputer, internet, dll ditemukan. Masa itu kita lewati semenjak abad ke-19 sampai akhir-akhir ini.

 

Tetapi yang perlu dicatat adalah semakin industri atau teknologi ber-evolusi dan ber-revolusi, itu yang terjadi adalah peningkatan speed dan acceleration perubahan inovasi tersebut. Dan semakin speed dan acceleration itu meningkat, semakin manusia terekspos dengan human of error yang lebih besar. Manifestasi dari error-error atau kesalahan tersebut itu bisa dilihat dalam Perang Dunia ke 2 misalnya. Dimana puluhan juta manusia itu meninggal dunia. Dan kita harus sadar bahwa ke depan semakin teknologi itu ber-evolusi dengan speed dan acceleration yang meningkat, semakin human of error itu semakin lebar. Dan  error-nya itu akan semakin besar. Nah, manusia harus menyadari, ini hanya bisa dimitigasi kalau kita menyadari dan bisa menunjukkan kebijaksanaan. Kalau kita menyadari dan bisa menunjukkan kebijaksanaan, karena kita melihat di Perang Dunia ke 2, dengan pemberdayaan teknologi yang sama, tapi dikarenakan perbedaan ide dan ideologi pemberdayaan teknologi, itu dimanfaatkan untuk kepentingan yang membuahkan korban yang begitu banyak. Ini bukan berarti tidak bisa terjadi di abad ke 21, dan ataupun bukan berarti tidak bisa terjadi di abad ke 22.

 

Nah, akhir-akhir ini kita melihat bahwasanya inovasi internet yang sangat pesat itu kurang lebih 60% per tahun untuk periode tahun 90 an sampai tahun 2020. Ini sudah dilewati dengan fenomena yang baru, yang namanya blockchain. Blockchain mungkin semenjak 15 tahun yang lalu ini pertumbuhannya jauh lebih pesat dibandingkan internet. Pertumbuhannya itu kurang lebih 110%-120% per tahun dari sisi jumlah pengguna aset criypto. Ini adalah tingkat adopsi tercepat dari teknologi apapun dalam sejarah manusia. Dan ini adalah manifestasi dari apa yang sudah tersampaikan tadi, yaitu speed dan acceleration sudah dan akan terus meningkat.

 

Kita juga harus menyadari bahwa dalam waktu dekat kita akan diwarnai dengan atau oleh aplikasi blockchain yang akan lebih menyeluruh. Kita melihat blockchain ini sudah sangat nyata aplikasinya dalam konteks desentralisasi transaksi keuangan atau ekonomi. Bahkan apapun itu yang sifatnya menempel dan ada hubungannya dengan duit atau uang. Dan masyarakat luas di negara-negara maju, dan sudah mulai di negara-negara berkembang seperti Indonesia, sudah mulai mendekatkan diri dengan pemberdayaan blockchain. Dikarenakan satu: ini sifatnya tidak sentralistis, jauh lebih desentralistis. Kedua: blockchain ini sangat bisa teraih identifikasi mengenai siapa yang bertransaksi yaitu transparan. Ketiga: blockchain ini tentunya akuntabilitas atau recourse. Seringkali kita tidak menyadari bahwa penting untuk kalau kita bertransaksi, kita harus memiliki akuntabilitas atau recourse, transparansi, identifikasi, dan juga yang lebih real time. Hal ini dikarenakan dilakukan secara desentralistis, dan ini bisa dianggap lebih real time. Anggaplah kalu kita mau transfer uang lewat sistem yang bisa dianggap sentralistis, itu kita harus menunggu satu, dua, atau tiga hari sampai itu mencapai tujuan. Intinya kalau kita melihat bahwasannya masyarakat luas ini sudah lebih mendekatkan diri dengan bukan hanya konsep, tapi aplikasi blockchain yang lebih desentralistis. Kita harus menyadari ini prospek aplikasi blockchain ke unsur yang sifatnya non-keuangan, ini sangat memungkinkan. Tokenisasi ini bisa diaplikasikan atau deberdayakan untuk kepentingan banyak hal, apakah itu sosial, budaya, politik, geo-politik, diversitas ataupun biodiversitas. Seperti yang kita lihat rare-growht atau pertumbuhan diatas 120% ini bukan semata manifestasi dari bagaimana manusia itu sudah sangat bersemangat dengan aplikasi dalam konteks keuangan, tapi manusia ini sangat bersemangat dengan prospek-prospek tambahan yang mana kita bisa melihat aplikasi yang lebih komprehensif yang lebih lebar.


Dari segi korporat kita melihat ada satu perusahaan namanya Tesla. Pada Oktober 2021 Tesla menjadi perusahaan keenam dalam sejarah AS yang bernilai $1 Triliun. Tesla adalah perusahaan tercepat kedua setelah Facebook yang mencapai valuasi tersebut. Yang mana kalau kita lihat nilai perusahaan ini per mobil terproduksi dan terjual, itu diatas 1,5 juta dollar. Padahal mobil Tesla itu dijual di jalanan hanya dengan harga antara 35 sampai 120 ribu dollar. Tapi harga sahamnya atau harga perusahaannya per mobil terproduksi itu diatas 1,5 dollar, dibandingkan perusahaan-perusahaan otomotif lainnya yang bisa dibilang masih konvensional. Seperti Volkswagen, Daimler, Toyota, dll. Yang mana harga perusahaan per mobil terproduksi atau terjual dikisaran dua puluh sampai tiga puluh ribu dollar. Divergensi atau gap antara nilai perusahaan Tesla dengan perusahaan-perusahaan otomotif yang konvensional, ini mencerminkan beberapa hal. Pertama adalah AI atau Artificial Intellegence atau kecerdasa Artifisial yang sangat diberdayakan dan diamalgamasikan dengan dua atribut lainnya: yaitu robotik dan juga otonomi. Otonomi ini adalah kapasitas mobil itu bisa nyopir sendiri tanpa disopirin oleh seseorang sopir atau kita sendiri. Nah, tiga hal yang teramalgamasi ini membuahkan evolusi teknologi yang luar biasa.

 

Dalam konteks Indonesia masih banyak sektor-sektor yang belum terdisrupsi. Kita telah melihat disrupsi yang nyata sekali dalam konteks transportasi, dalam konteks marketplace/retail. Tapi kita juga masih melihat ada banyak sektor-sektor yang belum terdisrupsi. Termasuk  tentunya energi. Apakah itu di hulu sampai hilir. Dalam sektor kesehatan kita melihat 21 bulan terkahir ini disrupsinya nyata, tapi ini hanya menggores permukaannya. Dan dalamnya masih belum terdisrupsi. Tiga, tentunya pariwisata. Pariwisata ini sangat prospek untuk kepentingan, bukan hanya kesejahteraan, tapi kepentingan redistribusi kesejahteraan di Indonesia dan seluruh dunia. Keempat adalah sektor pertanian dan peternakan. Ini besar sekali, ini kurang lebih 14% dari PDB kita, itu kalau dihitung berdasarkan PDB 1,1 Triliun dollar, itu angka pertahunnya bisa mencapai 150-160 miliar dollar. Selanjutnya adalah pendidikan. Pendidikan belum terdisrupsi. Kita sudah melihat ada beberapa platform digital yang sudah mendisrupsi, tapi hanya menggores permukaannya saja. Dan ini kita bukan hanya harus fokus ke penyajian kurikulum, tapi kita juga harus menyadari bahwa cara kita menyajikan, cara kita mengajar ini harus lebih diubah agar kualitas ajaran itu bukan hanya lebih bisa diserap dengan baik tapi lebih relevan untuk bagaimana manusia itu bisa menjaga planet dengan baik dan dengan cara yang bijaksana ke depan.


Nah, ujung-ujungnya ini tergantung kita semua. Bagaimana kita bisa secara bijaksana memberdayakan teknologi yang sangat inovatif dan lengket dengan speed dan acceleration kecepatan yang semakin meningkat. Tapi bagaimana kita harus bijaksana memberdayakan teknologi tersebut agar kita fokus ke hal-hal yang sifatnya yaitu menu utama, bukan menu penutup, bukan menu pembuka. Tentunya hal-hal yang jangka panjang sifatnya. Itu termasuk apakah itu perubahan iklim, termasuk bagaimana kita bisa menurunkan kesenjangan. Kita melihat fenomena akhir-akhir ini bahwasanya uang itu semakin terelitisasi, sehinggs kesenjangan itu semakin menganga, melotot di depan kita. Rasio koefisien Gini semakin meningkat. Bukan hanya di negara-negara berkembang tapi juga di negara-negara maju. Ini harus disikapi oleh kita semua dan generasi penerus. Ketiga tentunya adalah inklusi keuangan. Semakin, bukan hanya rakyat punya akses ke uang tapi punya akses ke skala uang yang mencukupi agar mereka bisa menempelkan ide yang keren dengan uang semakin kita bisa lebih optimis dengan prospek penurunan kesenjangan atau inequality di kemudian hari.

 

Seperti yang terkait dengan inequality atau kesenjangan, ini sebetulnya cukup berkolaborasi dengan bagaimana percakapan di dunia ini semakin bukan hanya bercabang tapi terpolarisasi. Dan polarisasi percakapan ini sangat perlu disikapi. Saya berhepotesa beberapa kali bahwasanya polarisasi percakapan ini berkolerasi bagaimana manusia itu menggunakan teknologi. Mungkin platform digital yang selama ini diberdayakan untuk kepentingan sosialisasi. Ini terbukti secara empiris, sangat telah melakukan amplifikasi algoritme terkait dengan narasi-narasi yang kental dengan kebencian, pertikaian, dan kemarahan yang sifatnya jauh lebih mengejek dibandingkan kolaboratif atau kolektif. Tentunya filsafat yang dikedepankan oleh pengguna atau pemilik teknologi digital tersebut adalah kalau ada narasi yang negatif atau kental dengan kemarahan, kebencian, dan segalanya, itu niscaya akan ternetralisir dengan informasi yang positif. Tapi yang perlu kita sadari: informasi yang positif itu lebih banyak ada di mayoritas yang pendiam, yang satu: tidak terlalu mau speak up, dan kedua: tidak teramplifikasi dengan algoritme yang ada dalam platform-platform digital tersebut.


Nah, ini kalau menurut saya adalah satu gejala terkait dengan bagaimana teknologi yang begitu cepat dan begitu meningkat akselerasi kecepatan inovasinya itu tidak diberdayakan atau tidak digunakan dengan cara yang bijaksana oleh manusia. Jadinya kalau kita semakin menyadari bahwasanya semakin kecepatan dan akselerasi itu meningkat, semakin kita terekspos dengan margin of error yang semakin lebar dan semakin besar. Ini adalah salah satu kesalahan yang kita harus sadari yaitu demokrasi akhir-akhir ini seakan-akan disamakan dengan amplifikasi algoritme. Ini tentunya tidak semestiya seperti itu. Dan dengan kesadaran seperti itu kita harus mengambil sikap, bagaimana kita harus satu, mengobati algoritme tersebut dan syukur-syukur mengobati proses demokratisasi ke depan agar kita satu, lebih bisa mendemokratisasikan ide, kedua kita lebih bisa mendemokratisasikan talenta agar ide dan talenta yang ada di generasi sekarang dan generasi penerus itu nyambung dengan kepentingan kita untuk menjaga kelestarian planet Bumi. Sedangkan untuk kepentingan manusia, bisa menurunkan kesenjangan dan agar manusia itu lebih bisa hidup dengan cara yang lebih bijaksana ke depan.

 

 

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 5 “Meredupnya Cahaya Keilmuwan Islam”

 

                                                                          Part 6        

“Meredupnya Cahaya Keilmuwan Islam”

 

            Telah ada beberapa pemikiran ataupun spekulasi mengenai sebab berkurangnya pengedepanan sains dan teknologi semenjak berakhirnya zaman Abbasid di tahun 1258 M. Pertama mungkin sangat masuk akal yaitu serangan yang spektakuler yang dilakukan oleh Hulagu Khan terhadap Baghdad di tahun 1258 M, dengan hancurnya dokumentasi ilmu pengetahuan yang banyak sekali, yang sudah terakumulasi dari zaman Yunani ribuan tahun sebelumnya, zaman romawi ratusan tahun sebelumnya.


            Kedua, yang mungkin saja sebagai alasan itu adalah kritik terhadap ilmu pengetahuan sains Aristotelian yang menyebabkan berkurangnya Intellectual Curiosity.


            Ketiga, mungkin saja berkurangnya peran Timur Tengah sebagai peran penting dari Rute Sutra atau Silk Route semenjak pihak-pihak Eropa menemukan jalur maritim yang baru menuju Asia semenjak abad ke-15.


            Keempat, mungkin saja semenjak ditemukannya Printing press atau mesin cetak di Eropa di abad ke-15, ini yang membuahkan episode dimana Eropa itu lebih cepat melakukan pencatatan dan produksi masal untuk karya-karya tulisan mereka yang bisa diberdayakan untuk kepentingan menyebarkan ilmu pengetahuan untuk komunitas mereka.


            Tapi, mungkin yang penting untuk diketahui kita semua adalah keterbukaan manusia terhadap ilmu pengetahuan dari manapunmerupakan atribut penting untuk kemajuan suatu bangsa. Agar bisa menjadi bangsa yang maju, Indonesia tentunya ini perlu mencatat, sebagai negara muslim terbesar di dunia, tentunya kental dengan moderasi, keterbukaan, toleransi, dan kebersamaan. Bukan tidak mungkin untuk Indonesia untuk berperan besar sekali untuk pengedepanan sains teknologi ke depan.

 



Pengetahuan adalah penawar kemunduran. Tanpa akses ke ilmu-ilmu yang ditemukan maupun diterjemahkan oleh para ilmuwan di zaman kejayaan Islam, dunia tidak akan menjadi seperti sekarang.

 

Keterbukaan adalah awal dari kemajuan. Istilah “Ilmuwan zaman kejayaan Islam” disini mewakili tidak hanya mereka yang beragama Islam, tetapi juga para ilmuwan dari semua bangsa dan agama yang hidup dan bekerja di bawah kepemerintahan Islam. Seperti kata pepatah “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.


-Narasi ini dibuat bukan dengan maksud mengunggulkan, memojokkan, apalagi mengucilkan kelompok agama manapun, tapi justru sebagai refleksi tentang suatu zaman dimana pengedepanan akal dan logika, serta toleransi dan keterbukaan dapat berjalan beriringan dengan ketaqwaan. Karena bagaimanapun, sains adalah upaya kolektif seluruh umat manusia-.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 4 “Teladan Keterbukaan dan Toleransi”

 

                                                                          Part 5        

“Teladan Keterbukaan dan Toleransi”

 

            Pada intinya, bahasa-bahasa yang dibaca dan diterjemahkan di Bayt al-Hikmah itu bukan bahasa Arab saja, tapi juga diterjemahkan daei bahasa Farsi, Aramaik, Yahudi, Syiriac, Yunani, dan Latin. Jadi bisa dibayangkan keterbukaan mereka untuk belajar dari seluruh penjuru dunia itu luar biasa sekali. Dan tentunya esensi dari ulasan ini adalah tidak ada yang dinamakan sains Persia, sains Arab, sains Islam, sains Yahudi, sains Kristen, akan tetapi yang ada adalah sains. “Sains has no border”. -Sains tidak memiliki batas-.

 

            Tentunya yang menggaris bawahi kejayaan mereka, apakah itu di zaman Umayyad, Abbasid, ataupun Ottoman adalah KETERBUKAAN dan TOLERANSI. Tapi saya perlu garis bawahi disini, sempat ada seorang ahli spiritual, ahli filsafat, dan ahli macam-macam yang bernama Hamid al-Ghazali, seorang polematika keturunan Persia. Beliau menulis banyak sekali karya-karya tulisan. Dua yang akan saya highlight. Pertama adalah “Revival of the Religious Sciences”, bahwasanya ajaran Islam itu sudah dilupakan di zaman Abbasid, dan beliau mengingatkan untuk kaum Islam itu untuk tetap mendekatkan diri dengan agama. Karya keduanya adalah “The Incoherence of the Philosophers” yang mengkritik ilmu pengetahuan sains Aristotelian, bahwasanya revelatian (wahyu) itu lebih tinggi daripada investigasi atau rasionalitas. Mungkin kalau saja pengedepanan sains dan teknologi itu terus berlanjut semenjak zaman keemasan Islam di zaman Abbasid, mungkin sekali kemenangan di Nobel dalam bidang sains yang dimenangkan oleh kaum Islam itu jauh lebih besar daripada hanya 0,5% dari total kemenangan selama ini. Tapi tentunya Nobel itu bukan penilaian yang universal, tapi hanya salah satu dari acuan untuk sejauh apa kita sudah mengedepankan ilmu sains dan teknologi.

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 3 “House of Wisdom atau Bayt al-Himah”

 

Part 4

“House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah”

 

            Pada intinya pengedepanan sains dan teknologi sangat termanifestasi di zaman Abbasid atau Abbasiyah. Salah satunya adalah House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan, ini sebetulnya tempat yang dilahirkan oleh raja Al Mansyur di zaman Abbasid dan ini merupakan tempat yang ujung-ujungnya menjadi perpustakaan yang sangat besar dan spektakuler dan menjadi institusi pendidikan yang bisa mengumpulkan karya-karya yang luar biasa. Tetapi pada masa selanjutnya, The House of Wisdom ini disempurnakan oleh raja berikutnya keturunan raja Al Mansyur, yang bernama Harun al-Rasyid yang berkuasa di tahun 786 M – 809 M. Tentunya ini dibesarkan lagi dan diindahkan lagi oleh raja al-Ma’mun yang juga merupakan keturunan dari Harun al-Rasyid. Beliau ini yang mengumpulkan bukan hanya koleksi-koleksi pribadi dari zaman al-Mansur, Harun al-Rasyid, dan al-Ma’mun saja, tetapi mereka mengumpulkan karya-karya, tulisan-tulisan dari seluruh penjuru dunia. Ini mungkin yang membedakan keterbukaan yang berada di zaman Abbasid dibandingkan keterbukaan yang ada di zaman-zaman Islam lainnya.


            Di House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah, ada 4 ilmuwan yang mungkin bisa di-highlight atau digaris bawahi. Pertama adalah yang paling terkenal, ini adalah Ibnu Sina, yang hidup di tahun 980 M - 1037 M. Beliau ini orang keturunan Persia, tetapi dari kecil beliau dikenal sebagai prodigy, dan lahir di Bukhara, di negara sekarang namanya Uzbekistan. Beliau adalah ahli dalam bidang filsafat, kedokteran dan astronomi, yang menulis “The Canon of Madicine” yang menjadi acuan ilmu kedokteran di dunia Islam dan Eropa. Bahkan acuan atau referensi di ilmu kedokteran di zaman kontemporer itu masih banyak mengacu ke temuan-temuan atau karya-karya dari Ibnu Sina.


            Berikutnya adalah Al-Biruni yang hidup dari tahun 973 M – 1048 M. Beliau juga orang Persia, tidak seterkenal Ibnu Sina, tapi belia ahli filsafat, teologi, matematika, fisika, dan seorang polimatika. Bahkan banyak sekali teori-teorinya beliau itu diberdayakan, direferensikan, digunakan sebagai acuan oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal di Eropa dan dunia sekitarnya hingga ratusan tahun berikutnya. Beliau juga dijuluki sebagai geologis atau ahli geologi dan antropologi pertama. Beliau juga dujuluki sebagai Leonardo Da Vinci-nya dunia Islam. Beliau sangat merupakan follower atau pengikut dari orang ilmuwan lainnya yang bernama Al-Khwarizmi, yang juga hidup di zaman Abbasid, lahir di Uzbekistan. Beliau juga terkenal menggunakan trigonometri untuk mengukur panjang lingkaran planet dunia atau bumi. Jadi, bayangkan kalau Al-Biruni pada masa itu sudah bisa mengukur lingkaran atau panjang planet Bumi di ratusan tahun sebelum Christopher Colombus menemukan Amerika. Ini berarti bisa diargumentasikan bahwa ilmuwan di zaman Abbasid itu sebetulnya sudah mengambil kesimpulan bahwasannya planet bumi itu bulat, bukan rata.


            Berikutnya adalah Ibn al-Haytham. Beliau adalah orang keturunan Arab bukan Persia. Hidup di tahun 965 M – 1040 M. Beliau adalah bapak dari optik modern. Beliau juga merupakan seorang astronomer, ahli matematika, ahli fisika, dan beliau lahir di Bashrah yang sekarang berada di negara Irak. Beliau juga dikenal sebagai seorang polimatik, yang ahli di bidang filsafat, dan kedokteran.


            Berikutnya adalah ilmuwan yang juga tidak kalah terkenal yaitu Ibn Musa al-Khwarizmi. Hidup di tahun 780 M – 850 M, lahir di Uzbekistan, seorang Persia. Beliau juga seorang polimatik yang menjadi pemimpin House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah. Beliau ini adalah orang yang menemukan aljabar, dengan tulisan kitab beliau adalah “ Al Jabr Wa al-Muqabala” atau “Compendium on Completion and Reduction”. Dan tentunya banyak yang belum sadar bahwasanya kata Al-Khwarizmi ini menjadi dasar atau asal-usul penggunaan konsep atau kata algoritma atau algorithm.


Banyak ilmuwan-ilmuwan lainnya yang sangat jaya di zaman Abbasid, termasuk Abu Bakr al-Razi, keturunan Persia, yang merupakan ahli kedokteran, filsafat, alkimia, logika, astronomi, dan menulis banyak sekali mengenai penyakit-penyakit, termasuk smallpox, chickenpox, dan pediatric. Berikutnya Abu Ma’shar, ahli astrologi yang menerjemahkan karya-karyanya Aristoteles. Ada juga Sahl ibn Harun, seorang ahli filsafat dan polimatika. Al-Hajjaj ibn Yusuf ibn Matar, ahli matematika yang menerjemahkan karya-karyanya Euclid. Hunayn ibn Ishaq seorang dari Syiria, seorang kristen yang ahli filsafat dan pernah diberikan amanah atau tanggungjawab untuk mengepalai House of Wisdom atau Bayt al-Hikmah. Abu Bishr Matta ibn Yunus, seorang Kristen juga, yang ahli kedokteran, yang sangat dimuliakan di zaman Abbasid. Dan Al Kindi seorang ahli filsafat, ahli matematika, dan musik. Jabir ibn Hayyan, yang merupakan ahli kimia dan al chemi. Omar Khayyam, ahli matematika, puisi, dan astronomi.


Kalau kita mengacu ke era yang lebih modern atau kontemporer di tahun 1543 M, ada seorang ilmuwan bernama Nicolaus Copernicus dari Polandia yang menemukan bahwasanya bukan planet bumi, tapi justru matahari yang merupakan pusat atau sentra dari sistem tata surya atau the solar system. Karyanya beliau mengacu ke banyak sekali karya-karya dari ilmuwan di zaman Abbasid termasuk Nasir al-din Al-Tusi dan Al-Battani. Mereka ini adalah ahli astronomi, matematika, dana fisika di masa kejayaan Abbasid.


Next Part 4 .......

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 2 “Tiga Zaman Emas Peradaban Islam”

 

Part 3

“Tiga Zaman Emas Peradaban Islam”

 

Kejayaan islam itu termanifestasi dalam beberapa zaman, atau 3 zaman yang dicatat dalam sejarah.

Umayyah

661 M – 750 M

Abbasiyah

750 M – 1258 M

Ottoman

1299 M – 1922 M

 

Zaman keemasan Islam yang pertama adalah zaman Umayyah yang dimulai kurang lebih 29 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW di tahun 632 M. Dinasti ini berlangsung dari tahun 661 M – 750 M. Tentunya kejayaan zaman Umayyah ini diwarnai dengan tingkat toleransi dan keterbukaan yang luar biasa. Khususnya dalam urusan ekonomi, sosial, dan budaya. Dinasti ini dipelopori oleh Muawiyah Ibn Abu Sufyan (602 M – 680 M) yang memposisikan dirinya sebagai pimpinan atau gubernur di Damaskus yang akhirnya menjadi Ibukota dari kekuasaan untuk kerajaan Umayyah selama 90 tahunan. Mereka cukup luas teritorinya, ini mencangkup 11 juta km2, termasuk Asia Tengah, Pakistan, Afrika Utara, Peninsula, Iberia yaitu Spanyol dan Portugal atau Andalusia. Ini jauh lebih besar daripada teritori yang dikuasai di zaman Romawi sebelumnya. Mayoritas dari populasi yang ada di zaman Umayyah ini adalah kaum Kristen. Mereka dan non-muslim lainnya termasuk kaum Yahudi diharuskan membayar pajak leboh tinggi dibandingkan kaum muslim atau Umat Islam yang hanya harus bayar pajak zakat.


Zaman berikutnya yang bisa dibilang sebagai zaman kejayaan Islam adalah zaman Dinasti Abbasid atau Abbasiyah yang berlangsung cukup lama, dari tahun 750 M sampai tahun 1258 M. Zaman ini juga sangat diwarnai dengan toleransi dan keterbukaan. Zaman ini dipelopori oleh yang sebetulnya sebelum tahun 750 M oleh pamannya Nabi Muhammad SAW, yang bernama Abbas Ibn Abdul Muthalib (565 M – 653 M). Zaman Abbasiyah ini kekuasaannya juga sangat besar, dan di awal waktu mereka ber Ibukota di Kufa, yang sekarang berada di Irak, semenjak mereka mengambil alih dari kerajaan Umayyah di tahun 750 M. Namun selanjutnya mereka memindahkan ibukota ke Baghdad di tahun 762 M semenjak Raja Al Mansyur berkuasa. Baghdad ini menjadi pusat dari ilmu pengetahuan, sains, budaya, filsafat, dll, yang membuahkan zaman keemasan Islam yang luar biasa. Namun zaman ini berakhir di tahun 1258 M, sewaktu diserang dan di taklukkan oleh Hulagu Khan keturunan dari kerajaan Mongol.


Manifestasi kejayaan Islam yang ketiga ini, adalah di zaman Ottoman yang berlangsung cukup lama dari tahun 1299 M – 1922 M. Zaman ini juga diwarnai dengan toleransi dan keterbukaan, tapi mungkin tidak sekental seperti pada zaman Abbasiyah dalam konteks pengedepanan sains dan teknologi. Zaman Ottoman ini diprakarsai oleh Sultan Osman dari Anatolia, seorang kepala suku Turkman. Pada dinasti Ottoman ini juga mengakhiri kekuasaan Kerajaan Byzantine, dengan pengambil alihan Kota Konstantinopel di tahun 1453 M, oleh keturunan Osman bernama Sultan Mehmed (1432 M – 1481 M) di usia muda sekali. Dan pada zaman Sultan Sulaiman I (1494 M- 1566 M) kerajaan Ottoman mengalami puncak kejayaan, dengan pengembangan sistem pemerintahan, ekonomi, dan sosial yang menjadikan Ottoman pusat interaksi antara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Pengedepanan ilmu alam di zaman Ottoman tidak secanggih sewaktu di zaman Abbasiyah, dan zaman ini berakhir beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I di tahun 1917 M – 1918 M.


Next Part 3 ......

Era Gemilang Sains yang Terlupakan Part 1 “Sejarah Sains Yang Terlupakan 2”

Part 2

“Sejarah Sains Yang Terlupakan 2”


        Kalau kita kupas lagi dalam konteks populasi dunia sejumlah 7,8 Miliar jumlah total penduduk dunia, kaum Kristen jumlah penduduknya kurang lebih 2,5 Miliar, mereka memenangkan 66%  dari total hadiah nobel yang dimenangkan dalam konteks sains, sedangkan populasi mereka itu adalah 32,1% dari total populasi dunia. Sedangkan Islam dengan 1,8 Miliar penduduk, kurang lebih 24,5% dari total jumlah penduduk dunia, mereka memenangkan hanya 0,5% dari total hadiah nobel dalam bidang sains. Hindu dengan jumlah 1,16 Miliar penduduk di dunia atau kurang lebih 15% dari total populasi dunia, mereka hanya memenangkan 0,6% total hadiah Nobel yang dimenangkan dalam bidang sains. Buddha dengan 506 Juta penduduk atau kurang lebih 5% dari populasi dunia, mereka belum memenangkan apapun. Sedangkan Yahudi, hanya dengan populasi 20 Juta penduduk atau 0,18% dari total populasi dunia, mereka sudah memenangkan 23,3% dari total hadiah Nobel yang dimenangkan selama ini dalam bidang sains.

 

 

Jumlah Populasi

Persentasi Populasi Dunia

Persentase Pemenang Nobel bidang Sains

Kristen/Katolik

2,5 Miliar

32,1%

66,2%

Islam

1,8 Miliar

24,5%

0,5%

Hindu

1,16 Miliar

15%

0,6%

Buddha

506 Juta

5%

 -

Yahudi

20 Juta

0,18%

23,3%

 

Total Populasi Dunia : 7,8 Miliar Penduduk

 

            Nah, kalau kita belajar selama ini, ilmuwan-ilmuwan yang kita ketahui iru kebanyakan atau hampir semuanya yang kita kenal itu berasal atau dari Eropa. Tentunya yang pertama yang dikenal adalah Isaac Newton, bisa Aristoteles, bisa Albert Einstein, bisa Pythagoras, bisa Galileo, bisa Charles Darwin, ataupun Marie Curie. Lucunya tidak kedengeran nama-nama yang berasal dari Timur Tengah atau dari dunia zaman Islam.

 

Tapi, yang penting untuk diketahui adalah ketika kita bicara mengenaik angka atau bilangan, angka yang digunakan oleh manusia di seluruh dunia, angka ini adalah angka Arabic atau bilangan Arabic, bahkan ilmu mereka untuk menemukan angka itu juga ditopang oleh teman-teman di India. Karena dari India lah yang menemukan angka nol yang ditambahkan ke angka-angka dari 1-9.

 

          Berikutnya kalau kita melihat bintang yang ada di Galaksi Milky Way, itu 2/3 dari seluruh bintang yang sudah diberikan nama itu sebetulnya diberikan nama oleh ahli-ahli di zaman islam yang jaya, khususnya di zaman Abbasid atau Dinasti Abbasiyah yang berjaya selama kurang lebih 500 tahun, dari tahun 750 sampai kurang lebih 1258.

SYAHDAN

    Pada tempat yang sunyi , senyap , disekitar macam-macam gunung diluar Mekah timbullah berkali-kali persoalan. Lagit Arabia tiada dili...